Saturday, November 27, 2010

Hujan Untuk Yang Disana ^^


Langit sudah sedikit gelap. Tapi angan dan mimpi kita tetap benderang. Kamu ingat, berapa jam sehari kita bekerja? Atau berapa jam sehari waktu yang kita pakai untuk tidur? Atau berapa kali dalam sebulan kita bertemu? Itu seperti sudah tertata dengan rapi. Terencana dan menjadi sebuah rutinitas. Tapi, walau gelap walau terang, angan kita tetap ada. Tidak malam tidak siang angan kita tetap hidup. Tidak tidur. Tidak lelah. Dan bukan lagi sekedar rutinitas. Tapi kebutuhan dan tujuan yang berwarna.

Siangini. Sepertinya aku ingin membungkus benderang yang menghiasi bumi. Damai di sekitar sini. Di antara rangkaian kata aku dan kalian yang kali ini menjelma menjadi KITA. Rasanya kita akan mampu memindahkan pesona mimpi. Terbang tergenggam dalam jemari-jemari kita. Menjadi nyata, bukan hanya sebuah angan yang mengurai terlalu banyak harap.

Mungkin kita harus menitipkan surat pada semburat senja sore ini. Sebuah perjanjian, bahwa kita akan saling menjaga. Seperti orang-orangan sawah yang menjaga hijau padi hingga menguning kelak. Atau layaknya jembatan yang saling menghubungkan. Ah, dan bukankah kita sudah saling terhubung sekarang? Dengan temali maya yang tersimpul di antara kita?

Dan rindu ini seperti jas hujan di musim panas. Atau payung di musim kemarau. Rindu ini tidak seperti jalanan aspal yang licin oleh luapan air got. Ketika kita mendengar ada rintik di ujung jendela, apa yang kita lakukan?

Kita seperti payung yang berkali-kali jatuh cinta pada hujan. Kita sangat mencintai hujan. Itu yang aku tahu. Ketika kamu rindu hujan mungkin kamu juga merindukanku.. tapi... ketika rintik hujan tidak lagi terdengar apakah kamu juga berhenti merindukanku?

Hujan memang tak mampu membantu mendekap apa yang kamu inginkan. Bahkan jika kamu pejamkan mata sekalipun, terbang dengan khayalan. Hujan tetap tak mampu mendekap apa yang kamu inginkan. Tapi bukankah masih ada suara rintiknya yang mengingatkan kamu pada satu rindu?

Satu rindu saat kita bersama dalam hujan... menghirup aroma tanah setelah hujan sembari menikmati suara rintiknya yang merdu. Saling mendekap dan memandang daun yang melambai-lambai karena tertimpa butiran air- JOGJA ^.^

11 comments:

  1. Waa.. Kak Moon! aku baru tau, kalo' kakak jago berpuitis ria! keren lhoo..
    Bahasanya ndewo.. :D

    ReplyDelete
  2. :'(
    Kangeeeeeenn,,,
    huuuaaaa,,,
    sundul gan,,kasih cendol deh,,
    mantep,,
    LANJUTKAN BERKREASI KAWAN,,,
    :D

    ReplyDelete
  3. eeeh,, ada 1 lagi nih kaka yg puitis abiiis..
    Ajarin donk?


    satu kata,, KEREEEEEEEEEEEN..
    terharu saya,, :')

    ReplyDelete
  4. waduhhhhhh kaliannn ini membuat saya takjubb,,,
    lahhhh s wulwul bahasanya,,,ajegile serasa baca novel jaman kapannnn...novel atau apa yah??hahaha sya ga tauuu...wkwkwk
    sadis dehhh,,,kerenn,,lanjutkann sist,,

    ReplyDelete
  5. waaaaawww..
    speechless.. :D
    lanjutkan lant!

    kita semua bareng2 bikin blog ini ga cuma sekedar blog.. ^_^

    ReplyDelete
  6. Hikz.Hikz.Hikz...
    Lan g'nyangka kamu pinter nulis,,, puitis banget !!!


    DAHSYAT !!!!

    ReplyDelete
  7. baru sempet comment... Mbakyu satu ini, puitis dan sarat makna. Bukan tulisan biasa, pesan didalamnya ky yg berlapis-lapis *apadeh*
    Jadi inget puisinya Sapardi Djoko Damono, judulnya Hujan Di Bulan Juni.
    --------------------------------------
    tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan Juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan Juni
    dihapuskannya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan Juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu..
    -------------------------------------

    Jadi pengen jawab part ini sama puisi tadi:
    Ketika kamu rindu hujan mungkin kamu juga merindukanku.. tapi... ketika rintik hujan tidak lagi terdengar apakah kamu juga berhenti merindukanku?

    sesungguhnya, ketika rintik hujan tidak lagi terdengar, rindu itu bersembunyi dan menyatu dengan hujan yang ternyata amat sangat ingin untuk turun lagi. Namun terkadang, ia harus belajar bijak, tabah dan arif untuk tetap bersembunyi, hingga tiba waktunya ia turun, menumpahkan kerinduannya dalam sebuah pertemuan yang indah ^^

    ga sabar baca postingan @boelant berikutnya... boleh ga nyanyiin yel yelnya obiet, diganti sama boelant... boelant, lagi lagi yeah!! *abaikan*

    ReplyDelete
  8. huaaaa,,baru baca drk lant....

    tulisanmu itu M.A.N.T.A.P sangat......bikin saya speechless...:DD

    ReplyDelete
  9. udah liat dari lama siih..
    tapii belom komen..hehehe

    tak kusangka tak kuduga beibb...
    tulisanmu
    puitiss sekaliiiii :D :D

    tetap berkarya kawan!!
    ramaikan rumah kitaaa ^o^

    ReplyDelete
  10. satu kata buat tulisan ini MANTAP (y)

    ReplyDelete